Over Protektif dapat Mengganggu cara Sosialisasi Anak dengan yang Lainnya

Sudah pernahkah Anda mengikut anak Anda berkeliling-keliling taman bermain namun anda tidak perlu Over Protektif yang akan Mengganggu cara sosialisasi anak.

Mereka mungkin balita dan Anda cemas. Karena itu, Anda mengikut balita Anda berkeliling-keliling, jaga mereka dalam capaian lengan hingga Anda bisa menahan mereka jatuh atau alami kecelakaan.

Over Protektif Mengganggu Cara Sosialisasi Anak

Saya sudah jadi orangtua di taman bermain itu di masa lampau. Dengan anak lelaki kembar yang tidak takut saat balita, saya akan mengikut mereka ke perlengkapan taman bermain sebab saya mencemaskan keselamatan mereka.

Sesudah beberapa waktu lakukan ini, saya stop. Saya mengetahui jika beberapa anak perlu belajar lewat pengalaman mereka sendiri.

Baca Juga: Memiliki Anak Remaja yang Depresi?

Mereka akan jatuh, tapi mereka akan belajar bagaimana menghindar bahaya dan membuat penilaian yang diakui mengenai resiko lewat pengalaman mereka. Bila saya ada selalu untuk menahan mereka jatuh, mereka tidak belajar hentikan diri sendiri.

Mereka harus belajar sendiri. Sudah pasti, sebagai orangtua, tetap jadi tanggung jawab saya tidak untuk tempatkan mereka pada kondisi di mana mereka dapat terluka kronis.

Misalkan, kami mulai di taman bermain yang ditujukan untuk beberapa anak di bawah umur lima tahun. Kami tidak berpindah ke taman bermain besar sampai mereka cukup dewasa dan sadar akan sikap mereka dan resiko yang tersangkut dalam aktivitas bermain di taman bermain.

Kenapa Orang Tua Jadi Overprotektif

Tujuan dari skema asuh yang begitu protektif ialah berniat baik. Orangtua tipe ini benar-benar memerhatikan keselamatan dan ambil keputusan beberapa anak mereka. Arah khusus mereka ialah membuat perlindungan anak mereka dari bahaya. Beberapa orangtua harus memerhatikan keselamatan dan kesejahteraan beberapa anak mereka.

Tetapi, di lain sisi, orangtua harus juga mendidik anak mengenai resiko dan tanggung jawab. Pelajaran itu paling baik diberikan lewat pengalaman hidup. Bila kita selalu mengikut ada di belakang beberapa anak kita, siap untuk tangkap mereka dalam sekejap, karena itu kita tidak meluluskan mereka untuk belajar mengenai resiko dan tanggung jawab.

Unger, seorang periset mengenai skema asuh yang begitu protektif, merekomendasikan jika orangtua harus meluluskan anak untuk berperan serta dalam rutinitas mereka sendiri yang dipandang beresiko rendah. Ini bermakna meluluskan beberapa anak untuk tersangkut dalam rutinitas mereka sendiri yang memberi “jumlah resiko dan tanggung jawab yang bisa diatur.”

Unger mencuplik jika orangtua jadi makin protektif pada beberapa anak mereka dan semakin lebih siaga pada rutinitas beberapa anak mereka dibanding angkatan awalnya.

Permasalahan dengan jadi orangtua yang begitu protektif ialah jika anak kehilangan peluang untuk membuat ketrampilan sikap yang bertanggungjawab, membuat otonomi, dan meningkatkan harga diri. Keyakinan diri mereka dapat hancur saat ibu atau ayah selalu memantau dan menuntun sikap mereka.

Mereka bisa meningkatkan hati jika mereka tidak bisa membuat keputusan yang baik sebab mereka tak pernah dibolehkan untuk melakukan dalam kehidupan. Kepercayaan dan harga diri mereka terhambat saat mereka tidak dibolehkan lakukan suatu hal sendiri tanpa orangtua mereka memantau atau memantau mereka.

Kenapa Jadi Overprotektif Bukan Gagasan yang Baik

Beberapa anak belajar pada resiko alami. Bila mereka tidak dibolehkan mempunyai resiko alami sebab orangtua mereka lagi membuat perlindungan mereka dari ketidakberhasilan dan bahaya, perubahan mereka akan terhalang.

Sebagai contoh, silahkan kita saksikan seorang anak namanya Sally yang berumur 13 tahun. Ia ialah anak yang begitu diurusi oleh orang tuanya dan tidak dibolehkan untuk bermalam atau bahkan juga ke rumah rekan lain. Orang tuanya cemas mengenai bahaya orang asing dan apa yang dapat terjadi bila mereka tidak bersama anak mereka.

Sally dibolehkan mempunyai rekan di tempat tinggalnya, tapi orang tuanya selalu memantau beberapa anak. Setiap Sally dan beberapa temannya mulai tidak sepakat, pertikaian itu berhenti bahkan juga saat sebelum beberapa anak mulai menuntaskan permasalahan antara mereka sendiri sebab orangtua Sally akan terlibat dan menuntaskan permasalahan.

Sally tak pernah berduaan dengan rekan-rekan di luar sekolah sebab orang tuanya selalu datang. Kedatangan orang tuanya dalam publikasi jadi penghalang perubahannya.

Ia tidak paham bagaimana menuntaskan konflik antara beberapa temannya sebab ia tak pernah dikasih peluang untuk coba. Ketrampilan sosialnya kurang sebab orangtua turun tangan untuk arahkan sikapnya sepanjang ia bersama beberapa temannya.

Anak Memerlukan Ruangan dan Waktu

Beberapa anak memerlukan ruangan dan waktu untuk berdikari saat kecil. Bila Sally didiamkan sendirian dengan beberapa temannya, beberapa temannya selanjutnya akan menampik sikap menyuruhnya saat orang tuanya tidak ada.

Tetapi, sebab orangtua Sally selalu datang, ia tidak begitu senang memerintah beberapa temannya. Ia tidak belajar mengenai resiko alami dari karakter senang menyuruhnya tapi satu hari kelak akan susah untuk mengganti sikapnya sebab ia lebih tua secara lebih ditata.

Lebih gampang untuk belajar lewat resiko alami di umur muda. Sally peluang akan jalani therapy sebagai orang dewasa sebab ia tidak dapat jaga pertemanan masih utuh. Kelakuannya yang menyukai memerintah dan minimnya kesadaran sudah mengakibatkan ia memutus pertemanan berkali-kali sebagai orang dewasa muda.

Ia harus bekerja bersama dengan terapi untuk ungkap argumen kenapa ia kehilangan rekan dan usaha mengganti sikapnya untuk pelajari langkah yang lebih baik untuk melakukan tindakan pada beberapa temannya di hari esok.

Dampak Over Protektif Mengganggu Sosialisasi

Ada bermacam dampak mengasuh anak yang begitu protektif. Ini kerap kali tergantung pada sistem yang dipakai orangtua dan seberapa jauh sikap overprotektif. Sebagai contoh, silahkan kita saksikan Tina yang disebut seorang gadis umur 10 tahun. Ia pengin ikut dalam program trek bersaing sesudah sekolah. Tetapi, ia tidak dibolehkan mengikut aktivitas sesudah sekolah sebab orang tuanya cemas ia akan terkena dengan anak lelaki dan kemungkinan mulai terkait dengan musuh tipe begitu muda.

Kecemasan yang lain ialah jika seorang anak lelaki bisa “ambil keuntungan” dari anak wanita mereka, hingga mereka pengin melindunginya dari keterpaparan pada anak lelaki di luar sekolah dan pemantauan mereka.

Permasalahannya, Tina melepaskan rutinitas olahraga yang bisa menolongnya meningkatkan pertemanan. Ia kehilangan peluang yang berkaitan dengan jadi sisi dari team, berusaha keras secara fisik untuk berkompetisi, dan meningkatkan ketrampilan sportivitas.

Orangtuanya berniat baik, tapi pelindungan mereka yang terlalu berlebih menghindarinya untuk berperan serta dalam rutinitas olahraga yang paling ia harapkan.

Apa yang Harus Dilaksanakan Bila Anda Orang Tua yang Begitu Protektif

Bila sesudah membaca content ini Anda berasa jika Anda kemungkinan orangtua yang begitu Over Protektif dapat mengganggu sosialisasi, masihlah ada keinginan. Anda dapat berbeda.

Ini diawali dengan longgarkan ketentuan kendalian atas anak Anda secara diakui dan logis. Biarkan sikap beresiko rendah dan resiko yang tersangkut bisa menolong anak Anda jadi lebih berdikari.

Pasti kesetimbangan di antara pengasuhan protektif versi overprotektif. Biarkan rutinitas dan paparan pengalaman yang beresiko rendah ialah langkah yang baik untuk mengawali.

Misalkan, meluluskan anak Anda bermain di perlengkapan taman bermain yang sesuai umurnya (tanpa mengikutnya) ialah langkah pertama yang baik. Mereka akan alami beberapa bentrokan dan bengkak, tapi ini ialah sisi dari perubahan normal dan evaluasi mengenai resikonya.

Anda perlu mempelajari sistem pengasuhan yang otoritatif bila Anda berasa Anda ialah orangtua yang begitu protektif. Orangtua yang begitu protektif condong jadi orangtua yang otoriter.

Skema Dalam Mengasush Secara Over Protektif Sehingga Mengganggu Sosialisasi Dari Anak

Berikut artikel LifeHack yang saya catat awalnya mengenai skema asuh otoriter, hingga Anda dapat pahami kelemahan pada sistem parenting ini: Authoritarian Parenting.

Skema asuh otoritatif bukan skema asuh berbasiskan kontrol. Ini mengikutsertakan edukasi resiko dengan alamiah, memungkinkannya ambil keputusan yang sesuai umur, dan lakukan pembicaraan dengan beberapa anak dibanding mendikte untuk kontrol dan kepatuhan akhir.

MSU Extension memberi beberapa dasar baik untuk parenting otoritatif. Berikut ini ialah beberapa sikap yang mereka deskripsikan dengan sistem parenting otoritatif:

  • Berikan keinginan yang logis dan seperti umur untuk beberapa anak.
  • Stres dan kekhawatiran untuk beberapa anak bisa berpengaruh positif. Sebab mereka didiamkan alami hati-perasaan ini dalam jumlah kecil sebagai beberapa anak. Mereka selanjutnya bisa membuat ketrampilan koping dan kekuatan untuk menangani depresi dan kekhawatiran lewat pengalaman.
  • Dorong kemandirian, karenanya menolong beberapa anak membuat keyakinan diri dan harga diri mereka.
  • Membiarkan ketidakberhasilan saat mereka masih terbilang muda menolong mereka belajar bagaimana kembali bangkit dan coba kembali. Meningkatkan kekuatan ini di umur muda dengan teratur akan menolong menyiapkan mereka untuk ketidakberhasilan yang semakin besar. Saat mereka lebih tua, seperti putus cinta, tidak berhasil kelas, atau kehilangan pekerjaan.

Tidak ada kata telat untuk latih ketrampilan mengasuh anak kita. Tidak ada orangtua yang sempurna, karena itu, kami selalu bisa berusaha tingkatkan sistem pengasuhan kami.

Kita pengin beberapa anak kita sukses, berbahagia, dan kapabel sebagai orang dewasa. Itu tidak ada dalam tadi malam. Mengasuh anak ialah proses terus-terusan usaha tiap hari untuk menolong beberapa anak kita hidup dan belajar lewat pengalaman hidup mereka sendiri.

Bila kita coba membuat perlindungan mereka di tiap cara, karena itu mereka tidak dibolehkan untuk betul-betul alami hidup.

Diamkan pengalaman yang sesuai umur dan diamkan ketidakberhasilan hingga mereka bisa belajar bagaimana kembali bangkit dan coba kembali.